Penguatan Kinerja dan Profesionalisme Guru melalui Kepemimpinan Pembelajaran dan Budaya Kerja Positif
Magister Manajemen Pendidikan (S2 MP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Program Pemberdayaan Umat (Prodamat) sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat. Prodamat merupakan program wajib bagi seluruh mahasiswa S2 MP UAD sebagai bentuk penguatan kompetensi kepemimpinan pendidikan sekaligus kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat.
Prodamat kali ini mengusung tema “Penguatan Kinerja dan Profesionalisme Guru melalui Kepemimpinan Pembelajaran dan Budaya Kerja Positif” yang dilaksanakan pada Sabtu, 11 Juli 2026 di Komplek Perguruan Muhammadiyah Antapani, Kota Bandung. Kegiatan diikuti oleh guru, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan dari sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Bandung yang berjumlah sekitar 130 orang.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Muhammad Zuhaery, M.A., dosen S2 MP UAD, Drs. Musa Muhammad, M.E.Sy., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bandung, dan Drs. Purwanto dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Non Formal (Dikdasmen PNF) PDM Kota Bandung. Pemilihan tema dilatarbelakangi oleh pentingnya memperkuat profesionalisme guru melalui kepemimpinan pembelajaran yang mampu menciptakan budaya kerja positif di lingkungan sekolah. Di tengah berbagai tantangan pendidikan, guru dan kepala sekolah dituntut tidak hanya menguasai aspek akademik, tetapi juga mampu membangun lingkungan belajar yang bermakna, humanis, dan berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Zuhaery, M.A. menjelaskan bahwa konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat proses pembelajaran agar lebih bermakna bagi peserta didik. Menurutnya, guru perlu merancang pengalaman belajar yang mampu mendorong peserta didik berpikir, berefleksi, dan mengimplementasikan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau menegaskan bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti pada proses transfer pengetahuan semata. Guru perlu memanfaatkan asesmen formatif untuk memahami proses berpikir peserta didik sehingga pembelajaran tidak sekadar mengikuti keinginan guru, tetapi benar-benar berpusat pada kebutuhan belajar siswa. Materi pembelajaran juga harus dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata agar mampu membentuk karakter dan perilaku peserta didik.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya membangun kesadaran belajar pada peserta didik. Murid diharapkan menjadi pembelajar aktif yang memahami tujuan belajarnya, mampu meregulasi proses belajar secara mandiri, serta mengembangkan nilai kebermaknaan dalam setiap pengalaman belajar. Menurutnya, pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu melahirkan perubahan perilaku (behaviour), bukan hanya menghasilkan peserta didik yang menguasai materi pelajaran.
Tidak hanya membahas pembelajaran di kelas, Zuhaery juga memberikan penguatan mengenai pentingnya kepemimpinan yang humanis di lingkungan sekolah. Ia mengingatkan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mengelola sumber daya manusia dengan pendekatan yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
“Jadilah pemimpin yang menyenangkan, menggembirakan, dan humanis. Guru bukanlah mesin. Mereka adalah manusia yang memiliki perasaan, latar belakang, dan tantangan masing-masing. Kepemimpinan yang humanis akan menciptakan budaya kerja yang sehat dan berdampak pada kualitas pembelajaran.” ujar Muhammad Zuhaery
Kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Peserta aktif mengikuti pemaparan materi serta terlibat dalam sesi diskusi interaktif bersama para narasumber. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan tingginya perhatian peserta terhadap penguatan kepemimpinan pembelajaran, implementasi pembelajaran mendalam, serta pembangunan budaya kerja positif di sekolah.
Ketua Program Pemberdayaan Masyarakat Mahasiswa Magister Manajemen UAD, Cepi Aunilah S.Pd.I menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin mengaplikasikan ilmu manajemen yang telah dipelajari di bangku perkuliahan agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” terang Cepi
Cepi berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi peserta, tetapi juga memperkuat sinergi antara Universitas Ahmad Dahlan dengan Amal Usaha Muhammadiyah dalam menciptakan program-program pemberdayaan yang berkelanjutan. Pengalaman ini juga menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa untuk terus meningkatkan kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta kompetensi dalam merancang dan melaksanakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan Prodamat ini, mahasiswa S2 MP UAD tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik dan kepemimpinan, tetapi juga memperkuat perannya sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana memperkenalkan S2 MP UAD beserta visi keilmuan yang berorientasi pada pengembangan kepemimpinan pendidikan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.







