Strategi Mengajar melalui Pembelajaran Mendalam
Suasana kelas yang interaktif dan ramai rupanya tak menjamin bahwa murid mendapatkan pengalaman belajar yang berkesan. Demi mengatasi hal tersebut, para guru disarankan untuk memprioritaskan metode Deep Learning (pembelajaran mendalam). Pendekatan ini bertujuan agar para siswa tidak sekadar memahami materi pelajaran, tetapi juga sanggup mengaplikasikannya serta melakukan refleksi dalam kehidupan sehari-hari.
Isu ini mengemuka dalam Lokakarya bertajuk “Guru Naik Level: Upgrade Strategi Mengajar melalui Pembelajaran Mendalam“ pada Sabtu (25/07) di SDN 002 Balikpapan Tengah. Acara ini merupakan Program Pemberdayaan Umat (Prodamat) mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini diikuti oleh 35 tenaga pendidik dan kepala sekolah, serta dibuka langsung oleh Kepala Bidang GTK Disdikbud Kota Balikpapan, Cheiriyah Idha.
Tri Lestari, narasumber dalam kegiatan tersebut, menerangkan bahwa banyak pendidik telah berhasil menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, namun belum berhasil memberikan pengalaman yang berkesan dan mendalam bagi para murid.
“Motivasi guru tentu ingin memberikan pembelajaran yang menarik. Namun terkadang pembelajaran yang didesain hanya berjalan saat itu, tanpa meninggalkan makna bagi murid. Inilah pekerjaan rumah terbesar mengapa pembelajaran mendalam perlu diterapkan, yakni menghadirkan pembelajaran yang menarik sekaligus bermakna,” ujarnya.
Tri juga menyoroti kendala lain dalam dunia pendidikan, yaitu masih dominannya kebiasaan guru yang terpaku pada materi buku teks semata, alih-alih memanfaatkan media peraga yang mengundang keterlibatan aktif siswa. Tantangannya adalah bagaimana memetakan kebutuhan belajar siswa, kemudian menghadirkan solusi pembelajaran yang menyenangkan, tetapi tetap tepat sasaran
Perbedaan mendasar antara Deep Learning dan gaya mengajar konvensional terletak pada tingkat kebermaknaannya. Metode ini dirancang untuk membentuk pemahaman jangka panjang pada diri peserta didik. Selama ini banyak pembelajaran disajikan dengan menyenangkan, tetapi belum mampu meninggalkan makna bagi siswa. Dalam pembelajaran mendalam, guru merancang pengalaman belajar agar siswa memahami, mengaplikasikan, sekaligus merefleksikan apa yang dipelajarinya
Agar implementasi konsep ini tidak sekadar menjadi teori, Tri menekankan pentingnya ruang bagi guru untuk berlatih dan berkolaborasi secara langsung serta berbagi praktik baik yang berhasil meningkatkan interaksi siswa, membangkitkan rasa ingin tahu, serta menjawab tantangan pembelajaran di kelas
Ia mengapresiasi kesiapan para pengajar di Balikpapan, tetapi mengingatkan perlunya penguatan pada aspek pemanfaatan media belajar kontekstual yang bisa langsung diamati, dipraktikkan, bahkan dibuat oleh siswa.
Tri menegaskan kembali bahwa tolok ukur Pembelajaran yang berhasil bukan hanya kelas yang ramai dan penuh tawa. Yang terpenting adalah siswa memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menyadari adanya peningkatan pengetahuan melalui refleksi, serta tetap mampu mengingat dan menggunakan materi meskipun pembelajaran telah berlalu. Itulah puncak kebermaknaan yang diperoleh siswa
Pada kesempatan yang sama, Dimas Saputra selaku Ketua Tim Prodamat menyampaikan bahwa lokakarya ini didesain agar mampu memicu para peserta menghasilkan karya konkret yang siap dipraktikkan di sekolah.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar menyampaikan materi. Kami ingin para guru mengalami langsung proses pembelajaran, bertukar ide, lalu menghasilkan rancangan yang dapat diterapkan di kelas. Antusiasme dan kolaborasi peserta menunjukkan bahwa budaya berbagi praktik baik perlu terus diperkuat di sekolah,” ujarnya.
Dari pelatihan ini, para peserta berhasil menyusun draft modul pembelajaran mendalam yang mencakup target pembelajaran, profil lulusan, tahapan aplikasi dan refleksi, hingga sistem evaluasi. Modul tersebut direncanakan untuk disempurnakan dan diuji coba di kelas masing-masing demi meningkatkan kualitas pengajaran.



