Mahasiswa S2 MP UAD Gelar Prodamat Bahas Adaptive Leadership
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan (S2 MP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melaksanakan Program Pemberdayaan Umat (Prodamat). Kegiatan ini sebagai bentuk penerapan pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat dan bertujuan untuk mengasah kompetensi kepemimpinan pendidikan para mahasiswa sekaligus menghadirkan sumbangsih nyata dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di tengah masyarakat.
Prodamat kali ini dikemas dalam webinar berjudul “Adaptive Leadership: Strategi Sekolah mengelola Kelas yang Inklusif dan Interaktif di Era Digital” yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting pada Kamis, 3 September 2026, dan diikuti oleh 100 orang peserta yang terdiri atas guru, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan dari berbagai sekolah dan wilayah di Indonesia.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Achadi Budi Santosa, M.Pd. selaku dosen S2 MPUAD dan Ani Rachman, S.Psi., Psikolog selaku psikolog profesional. Pemilihan tema ini dilatarbelakangi oleh tuntutan transformasi digital dan kebijakan pendidikan inklusif yang mengharuskan sekolah mampu mengelola keberagaman peserta didik secara adaptif, namun di lapangan kepala sekolah serta guru masih menghadapi kendala dalam kompetensi pengelolaan kelas yang beragam, minimnya pemanfaatan teknologi secara sistematis, dan lemahnya peran kepemimpinan sekolah. Melalui pendekatan adaptive leadership yang dipadukan dengan strategi pengelolaan kelas digital yang inklusif dan interaktif, program ini diharapkan mampu membekali kepala sekolah dan guru untuk menghadirkan lingkungan belajar yang ramah, responsif, kolaboratif, serta relevan dengan kebutuhan seluruh peserta didik
di era digital.
Dalam pemaparannya, Dr. Achadi Budi Santosa, M.Pd membahas konsep kepemimpinan adaptif yang diinisiasi oleh Ronald Heifetz (2009). Beliau menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar posisi otoritas, melainkan aktivitas memobilisasi orang lain untuk menghadapi tantangan yang terus berubah melalui perubahan yang adaptif dan berpijak pada konteks organisasi. Beliau juga mengutip pandangan Thomas & Jean Miller (2001) bahwa kepemimpinan pendidikan di era modern adalah kemampuan mengelola perubahan, di mana pemimpin yang efektif tidak memaksakan kepatuhan, melainkan membangun relasi dengan pendekatan yang berdiferensiasi sesuai karakter masing-masing individu.
Untuk menghadapi situasi yang penuh gejolak, tidak pasti, kompleks, dan ambigu, narasumber menawarkan pendekatan melalui visi yang jelas, pemahaman yang mendalam, penyederhanaan komunikasi, serta kelincahan dalam menghadapi perubahan. Selain itu, beliau memaparkan empat pilar kepemimpinan adaptif, yaitu get on the balcony (melihat dinamika secara objektif dari sudut pandang yang lebih luas), identify the adaptive challenge (membedakan masalah teknis dengan tantangan adaptif), regulate distress (mengelola konflik secara sehat), dan give the work back to the people (mendelegasikan pekerjaan secara adil untuk menumbuhkan kader pemimpin baru).
Menyinggung soal konflik dalam organisasi, beliau berpandangan bahwa konflik merupakan hal yang alami dan tidak seharusnya dihindari, melainkan dikelola agar memberi dampak positif bagi perkembangan diri.
“Kita sebaiknya tidak boleh menghindarkan diri dari konflik, tetapi kita kelola konflik dengan baik sehingga bisa memberikan efek positif bagi kita,” ujar Achadi Budi Santosa.
Di penghujung sesi, beliau berpesan agar seluruh peserta senantiasa berupaya mengelola perubahan alih-alih hanya menjadi korban dari perubahan itu sendiri. “Mari kita terus mengelola perubahan, tanpa kita bisa merubah perubahan maka kita akan termakan oleh perubahan itu sendiri,” pungkasnya.
Sementara itu, Ani Rachman, S.Psi., Psikolog., menyoroti tantangan pendidikan inklusif di sekolah. Beliau menjelaskan bahwa kelas saat ini tidak lagi bersifat satu ukuran untuk semua peserta didik, melainkan menuntut guru mengelola keberagaman fokus, kemampuan, kecepatan belajar, hambatan, cara berkomunikasi, hingga kebutuhan sosial-emosional siswa.
Narasumber menekankan pentingnya data psikologi dan proses observasi sebelum menetapkan diagnosis pada siswa, melalui tahapan membaca, memahami, menyesuaikan, bertindak, dan mengevaluasi. Beliau juga menguraikan tiga prinsip utama pendidikan inklusif, yaitu equality (kesetaraan perlakuan), equity (dukungan sesuai kebutuhan masing-masing anak), dan inclusion (rasa diterima bagi setiap anak).
Sebagai instrumen pendampingan, beliau memperkenalkan Program Pembelajaran Individual (PPI) sebagai dokumen tertulis yang memuat data psikologi, kekuatan dan kelemahan anak, tujuan, serta strategi penanganan yang dipantau secara berkala dan melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Dalam sesi tanya jawab, beliau memberikan berbagai strategi praktis bagi guru dalam menghadapi siswa berkebutuhan khusus, termasuk pentingnya membangun kedekatan, menempatkan siswa pada posisi yang mudah dipantau, serta berkoordinasi dengan orang tua secara hati-hati dan berbasis data.
Mengakhiri paparannya, beliau mengingatkan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan penerimaan yang setara di lingkungan sekolah.
“Semua anak berhak untuk diterima. Jadi apa yang harus kita lakukan di era digital ini, mari kita banyak belajar membuka wawasan kita agar pikiran kita sehat dan anak-anak kita bisa menerima haknya menjadi siswa yang baik,” pesannya kepada seluruh peserta.
Ketua Prodamat, Rahmat menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui program ini, kami berkesempatan mengaplikasikan ilmu manajemen untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” terang Rahmat
Webinar tentang Adaptive Leadership memberikan wawasan dan inspirasi untuk terus beradaptasi, berkolaborasi, dan menghadirkan perubahan positif dalam dunia pendidikan. Harapannya kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun sinergi dan pemberdayaan yang berkelanjutan.
Pelaksanaan Prodamat ini tidak hanya membekali mahasiswa dalam mengasah kemampuan akademik serta kepemimpinan, tetapi juga mengukuhkan peran mereka sebagai agen perubahan yang berkontribusi langsung pada peningkatan mutu pendidikan. Di samping itu, kegiatan ini turut menjadi wadah untuk mengenalkan profil dan Visi Keilmuan dari S2 MP UAD.






