Mahasiswa S2 MP UAD Bersamai SD Muhammadiyah Bodon dalam Desain Asesmen Pembelajaran Mendalam
Yogyakarta — Bertempat di Ruang Meeting Kampus 2B (24/12/2025), mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan (S2 MP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Progam Pemberdayaan Umat (Prodamat) dengan judul “Desain Asesmen dalam Pendekatan Pembelajaran Mendalam”. Kegiatan ini diikuti oleh 47 peserta yang merupakan guru dan karyawan SD Muhammadiyah Bodon, Kotagede.
Pelatihan ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan sekolah dalam memperkuat praktik asesmen yang selaras dengan arah Kurikulum Merdeka, terutama asesmen yang tidak berhenti pada penilaian akhir, tetapi menjadi bagian dari proses belajar: memberi umpan balik, membangun refleksi, serta mendorong pemahaman peserta didik secara lebih mendalam dan bermakna.
Kepala SD Muhammadiyah Bodon, Eko Rusyan Anan Prasetyo, S.Pd., S.I., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan dukungan sekolah terhadap penguatan kompetensi guru, sekaligus menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat.
“Atas nama SD Muhammadiyah Bodon, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Universitas Ahmad Dahlan. Terima kasih khusus kepada Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.I., kepada narasumber Bapak Drs. Suharyana, serta kepada segenap tim Prodamat Magister Manajemen Pendidikan UAD. Kami berharap kegiatan ini berdampak langsung pada kualitas asesmen dan pembelajaran di sekolah,” ujar Eko.
Prof. Dr. Suyatno, M.Pd.I., selaku dosen pembimbing Prodamat menyampaikan apresiasi kepada SD Muhammadiyah Bodon yang bersedia berkolaborasi dan menegaskan pentingnya sinergi kampus dengan sekolah sebagai ruang tumbuh bersama. Pada kesempatan itu, Prof. Suyatno juga memperkenalkan profil dan visi keilmuan dari S2 MP UAD kepada seluruh peserta.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada SD Muhammadiyah Bodon Kotagede atas keterbukaan dan semangat kolaborasinya. Bapak dan Ibu guru adalah ujung tombak perubahan mutu pendidikan. Melalui Magister Manajemen Pendidikan UAD, kami terus mendorong penguatan kompetensi manajerial dan kepemimpinan pembelajaran, termasuk penguatan asesmen. Mari kita jadikan forum ini sebagai ruang belajar bersama,” tutur Prof. Suyatno saat memberikan pengantar.
Disampaikan lanjut oleh Prof Suyatno bahwa asesmen bukan sekadar urusan angka, melainkan bagian dari strategi belajar, sehingga rancangan instrumen penilaian perlu membantu guru melihat proses berpikir peserta didik, bukan hanya hasil akhir.
Ketua Prodamat Ridwan Alif Adi Nugraha menyampaikan bahwa pelatihan ini disiapkan untuk memberi bekal yang aplikatif sekaligus mempererat hubungan kelembagaan antara sekolah dan kampus. Ridwan menekankan bahwa kegiatan pemberdayaan yang baik tidak berhenti pada pelaksanaan acara, tetapi harus menumbuhkan manfaat yang dapat dirasakan dan dikembangkan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Kami berharap kerja sama ini dapat membangun silaturahmi yang semakin kuat antara SD Muhammadiyah Bodon dan UAD. Lebih dari itu, kami berharap program yang dilaksanakan hari ini membawa manfaat berkelanjutan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam praktik asesmen yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran,” kata Ridwan.
Pelatihan ini dibagi menjadi 2 sesi. Pada sesi 1, fokus pada pemahaman konsep. Narasumber Drs. Suharyana mengajak peserta melihat kembali makna pembelajaran mendalam dan kaitannya dengan peran asesmen di kelas. Dalam penyampaiannya, peserta tidak hanya diajak memahami definisi, tetapi juga meninjau bagaimana asesmen seharusnya bekerja: sebagai penuntun arah belajar, sebagai umpan balik, dan sebagai alat refleksi bagi guru maupun murid.
“Asesmen jangan dipahami sebagai kegiatan ‘menghakimi’ hasil di akhir. Justru asesmen yang baik itu menyertai proses belajar memberi umpan balik, membantu siswa mengenali kemajuan, dan membantu guru mengambil keputusan pembelajaran berikutnya,” jelas Suharyana.
Peserta diperkenalkan dengan kerangka fungsi asesmen yang kerap digunakan dalam praktik pembelajaran, yaitu assessment as learning, assessment for learning, dan assessment of learning. Penjelasan itu membantu peserta memetakan kapan penilaian digunakan untuk refleksi siswa, kapan untuk umpan balik perbaikan proses, dan kapan untuk mengukur capaian akhir.
Sesi 2 menekankan praktik. Peserta diarahkan untuk menurunkan konsep menjadi langkah teknis: bagaimana merancang bentuk penilaian, menyusun soal atau tugas, serta memikirkan indikator ketercapaian yang mengukur pemahaman lebih dalam. Narasumber memandu peserta meninjau ulang bagaimana sebuah instrumen asesmen dapat mendorong berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual, bukan hanya menguji ingatan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui tanya jawab dan diskusi. Peserta diberi ruang untuk mengaitkan materi dengan kondisi kelas masing-masing, termasuk tantangan menyusun instrumen yang tepat dan cara memastikan asesmen tetap berpihak pada proses belajar. Diskusi dan umpan balik menjadi bagian penting agar rancangan yang dibuat tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterapkan sesuai kebutuhan pembelajaran di SD Muhammadiyah Bodon.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penguatan kembali poin-poin penting pelatihan dan dorongan agar peserta mulai menerapkan praktik asesmen yang lebih bermakna dalam pembelajaran sehari-hari.








