Jadi Narasumber Webinar Nasional, Kaprodi S2 MP UAD Buktikan Kepakaran Dosen Manajemen Pendidikan di Era Digital
YOGYAKARTA — Dr. Enung Hasanah, M.Pd., Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Manajemen Pendidikan (S2 MP) FKIP UAD , hadir sebagai narasumber dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta pada Senin, 25 Mei 2026. Kehadiran Dr. Enung dalam forum ini menjadi bukti pengakuan atas kepakaran dan kompetensi yang dimiliki oleh dosen S2 MP UAD dalam merespons arah kebijakan serta masa depan pendidikan di Indonesia.
Webinar yang mengusung tema “Bangkit Bersama melalui Pendidikan: Kepemimpinan, Karakter, dan Transformasi Pendidikan di Era Digital” dilaksanakan via Zoom Meeting dan mempertemukan para pakar serta praktisi lintas sektor. Selain Dr. Enung Hasanah, acara ini juga menghadirkan Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si., serta perwakilan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) DIY, Drs. Andar Rujito, M.H., dengan dipandu oleh Dr. Umi Faizah, M.Pd. dari STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta.
Dalam paparannya yang bertajuk “Inovasi Kepemimpinan Pendidikan di Era Digital untuk Membangun Generasi Berdaya Saing” , Dr. Enung Hasanah membedah tantangan riil dunia pendidikan saat ini menggunakan analisis manajemen modern. Beliau menegaskan bahwa model tata kelola sekolah konvensional sudah kehilangan relevansinya di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan intervensi Kecerdasan Buatan (AI) yang mengubah peta kebutuhan industri secara radikal. Menurutnya, pemimpin sekolah wajib memigrasikan pendekatan kerja administratif murni menuju manajemen kepemimpinan yang adaptif, transformatif, dan berbasis digital. Migrasi paradigma ini dinilai sangat krusial oleh sang pakar manajemen demi memastikan peserta didik mampu tumbuh optimal, baik secara personal maupun komunal, guna menghadapi realitas kebutuhan di masa depan.
Sebagai akademisi yang berfokus pada pengembangan mutu sekolah, Dr. Enung merancang formulasi strategi pembelajaran inovatif melalui penguasaan lima keterampilan dasar (Skills for Basic Education). Keterampilan tersebut mencakup pembelajaran berorientasi masa depan demi menumbuhkan kemampuan berpikir, berjejaring, dan berinovasi , manajemen diri untuk membentuk harga diri, regulasi diri, serta pemecahan masalah harian , serta kecakapan hidup bersama orang lain melalui penguatan komunikasi, kerja tim, peran warga negara aktif, dan etika sosial. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kemampuan menciptakan kebahagiaan yang bertumpu pada harmoni, apresiasi estetik, dan resiliensi , serta keterampilan hidup selaras dengan alam secara berkelanjutan dengan menjaga kesehatan fisik dan kelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, kepakaran manajemennya mengingatkan para kepala sekolah agar tidak terjebak dalam pusaran kekuasaan (power) yang bersifat transaksional dan top-down karena hanya akan melahirkan kepatuhan semu (compliance) di tingkat guru ketika menggunakan teknologi. Sebaliknya, institusi pendidikan harus mengedepankan kepemimpinan sejati (leadership) yang bertumpu pada pembangunan kepercayaan, visi bersama, serta pemberian kebebasan berkreasi bagi tenaga pendidik. Pandangan ini diperkuat oleh prinsip kepemimpinan dari Jim Collins yang menyatakan bahwa kepemimpinan hanya ada jika orang-orang mengikutinya ketika mereka memiliki kebebasan untuk tidak mengikuti, jika tidak, itu hanyalah kekuasaan semata. Oleh sebab itu, transformasi digital di sekolah ditegaskan bukan sekadar paksaan administratif, melainkan gerakan kesadaran bersama.
Sebagai penutup presentasinya, Dr. Enung Hasanah menggarisbawahi tiga pilar utama inovasi digital yang wajib dijaga, yakni integritas digital untuk menanamkan kejujuran intelektual di tengah tantangan plagiarisme AI , empati teknologi untuk memberikan dukungan personal yang lebih humanis bagi siswa , serta keadilan akses guna menjamin inklusivitas digital bagi semua latar belakang sosial. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi digital di sekolah bukan diukur dari kuantitas pembelian perangkat canggih, melainkan dari keberhasilan mengubah pola pikir (head), menyentuh hati (heart), dan mewujudkannya dalam tindakan nyata (hands) secara sinergis. Melalui pemikiran yang komprehensif di webinar nasional ini, Dr. Enung Hasanah sukses mempertegas bahwa keberhasilan transformasi ditentukan oleh manusia dan budaya organisasi sesuai prinsip bahwa transformasi adalah 20 persen teknologi dan 80 persen pola pikir serta manusia.





