Inovasi Koding Tanpa Layar “LENTERA-NAD” Antar Asri Wulandari Raih Peringkat 1 Guru Transformatif Kota Yogyakarta 2026
Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan, Asri Wulandari, S.Pd., berhasil mengukir prestasi dengan meraih Peringkat 1 Kategori Guru Transformatif Jenjang TK pada ajang Apresiasi Guru dan Kepala Sekolah Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Kegiatan Apresiasi Guru dan Kepala Sekolah Tahun 2026 mengusung tema “Menginspirasi dengan Karya, Mengabdi dengan Hati”. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta kepada para guru dan kepala sekolah yang telah menunjukkan dedikasi, kreativitas, inovasi, keteladanan, serta kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Yogyakarta
Guru dari TK ‘Aisyiyah Nyai Ahmad Dahlan, Kotagede, Yogyakarta ini memikat juri melalui inovasi pembelajaran bertajuk LENTERA-NAD: Membangun “Perangkat Lunak” Karakter Melalui Koding Unplugged. Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas tantangan fenomena ketergantungan instruksional pada anak usia dini, di mana anak-anak kerap menjalankan rutinitas adab hanya berdasarkan perintah verbal guru tanpa memahami logika dan alasan di baliknya. Melalui pendekatan koding tanpa layar (unplugged), Asri menyederhanakan konsep koding yang abstrak menjadi aktivitas fisik yang interaktif dan menyenangkan. Methodologi ini memadukan logika, etika, kesehatan, nutrisi, serta nilai spiritual dari Al-Qur’an dan Hadist secara terpadu.
Dalam penerapannya, metode LENTERA-NAD memanfaatkan media kartu fisik yang terbagi ke dalam berbagai blok kegiatan. Blok Logika melatih keteraturan dan antrean anak, Blok Etika & Kesehatan membangun kesadaran higienitas seperti mencuci tangan dan alat makan, Blok Nutrisi melatih kemandirian operasional, serta Blok Spiritual menanamkan adab berdoa dan makan sambil duduk sebagai bagian dari keteraturan hidup. Pembelajaran dikemas dengan menempatkan anak sebagai Chief Programmer yang bertugas menyusun urutan kartu adab makan secara mandiri. Apabila anak melompati atau melupakan suatu urutan, guru tidak akan menegur melainkan memberikan pertanyaan pemantik Deep Learning agar anak menemukan sendiri kesalahan atau Bug tersebut dan melakukan koreksi mandiri melalui proses Debugging.
Inovasi LENTERA-NAD memberikan dampak transformatif yang luas, tidak hanya pada perkembangan kognitif dan perilaku anak di kelas, tetapi juga pada ekosistem sekolah dan rumah. Secara kognitif, istilah Bug dan Debugging menjadi bahasa sehari-hari yang positif bagi anak untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan secara sportif sambil memahami struktur logis di balik adab. Dari sisi perilaku, tingkat kemandirian anak meningkat drastis hingga mampu menyelesaikan urutan adab tanpa instruksi verbal. Lebih dari itu, praktik baik ini menginspirasi sesama guru untuk mengadaptasi algoritma serupa pada kegiatan ibadah sholat dan persiapan tidur, serta memicu kesadaran orang tua untuk menerapkan ‘algoritma mandiri’ di rumah seperti menata sepatu dan merapikan tempat tidur. Asri Wulandari menegaskan bahwa koding di jenjang PAUD bukanlah tentang layar dan perangkat keras, melainkan tentang membangun perangkat lunak dalam nalar dan karakter anak, yakni akal dan akhlak.



