Mahasiswa S2 MP UAD Gelar Prodamat Desain Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
Magister Manajemen Pendidikan (S2 MP) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menyelenggarakan Program Pemberdayaan Umat (Prodamat) sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat. Prodamat merupakan program wajib bagi seluruh mahasiswa S2 MP UAD sebagai bentuk penguatan kompetensi kepemimpinan pendidikan sekaligus kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat.
Prodamat kali ini diinisiasi oleh kelompok beranggotakan Nur Hidayati, Indriani Ika Puspitasari, Nurul Rofiyatul Latifah, Rizaldi Budi Hastomo, dan Bibi Imna Zanu dengan tema “Mendesain Pembelajaran Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 11 Agustus 2026, di SMP Muhammadiyah Pakem, Yogyakarta dengan peserta 30 guru SMP Muhammadiyah Pakem.
Pemilihan tema dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan pendidikan yang bermakna, seiring pergeseran paradigma dari pembelajaran dangkal yang sekadar mentransfer pengetahuan menuju pengalaman belajar yang mendalam. Selama ini, murid kerap hadir secara fisik namun tidak terlibat secara kognitif, mereka mampu menjawab soal, tetapi tidak sungguh-sungguh memahami maknanya. Kondisi inilah yang mendorong perlunya desain pembelajaran yang mampu menghadirkan kesadaran, kebermaknaan, dan kegembiraan secara bersamaan.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Dian Hidayati, M.M., dosen S2 MP UAD, sebagai narasumber. Mengawali materi, Dian Hidayati melakukan refleksi pemahaman guru terkait perbedaan pembelajaran konvensional dan pembelajaran mendalam. Pembelajaran konvensional menempatkan guru sebagai pusat transfer pengetahuan, menekankan hafalan materi, menjadikan jawaban benar sebagai fokus pembelajaran, dan nilai sebagai hasil akhir. Sementara itu, pembelajaran mendalam menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran, menjadikan asesmen sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, dan mengutamakan pembelajaran yang bermakna.
Dalam pemaparannya, Dr. Dian Hidayati, M.M. menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah soal tingkat kesulitan materi, melainkan soal kualitas pengalaman belajar yang dihadirkan guru di kelas. Menurutnya, tiga prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan perlu hadir secara bersamaan dalam satu desain pembelajaran, bukan diterapkan sebagai metode yang berdiri sendiri-sendiri.
“Pembelajaran mendalam bukan sekadar pembelajaran yang sulit, tetapi belajar yang utuh, relevan, reflektif, dan dapat ditransfer ke kehidupan,” terang Dian Hidayati
Dian Hidayati menjabarkan bahwa berkesadaran berarti murid sadar akan tujuan belajarnya, sadar akan prosesnya, dan mampu meregulasi diri. Bermakna berarti murid mampu menghubungkan, menerapkan, dan memecahkan masalah dari apa yang dipelajari. Sementara itu, menggembirakan berarti murid merasa aman, aktif, tertantang, dan dihargai selama proses belajar berlangsung. Guru, lanjutnya, perlu menyusun desain pembelajaran secara sistematis serta merancang asesmen yang mencakup proses, aplikasi, dan transfer bukan hanya berfokus pada hasil akhir.
“Pembelajaran yang mengubah itu terjadi ketika berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan hadir sekaligus dalam satu desain, bukan dipilih salah satu. Kalau guru hanya mengejar ketuntasan materi, murid bisa saja hadir secara fisik, tetapi pikirannya ke mana-mana. Guru perlu berani mendesain ulang cara mengajarnya agar murid benar-benar hadir secara utuh, bukan hanya duduk manis di kelas,” ujar Dian.
Kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme. Para guru aktif mengikuti pemaparan materi serta terlibat dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber. Sejumlah pertanyaan dan tanggapan yang muncul menunjukkan tingginya minat peserta untuk merancang pembelajaran yang lebih bermakna bagi murid di sekolah masing-masing.
Salah satu peserta seminar, Rismawati menyampaikan kesan positifnya mengikuti kegiatan ini.
“Selama ini kami merasa sudah mengajar dengan baik, tetapi setelah mengikuti seminar ini kami jadi sadar bahwa mengajar itu tidak cukup sampai murid bisa menjawab soal. Materi yang disampaikan sangat aplikatif dan membuka wawasan kami untuk mendesain pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa,” ujarnya.
Ketua tim Prodamat, Nur Hidayati, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui program ini, kami ingin mengaplikasikan ilmu manajemen pendidikan yang telah dipelajari di bangku perkuliahan agar memberikan manfaat langsung bagi guru dan sekolah,” ujarnya
Nur Hidayati berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi peserta, tetapi juga memperkuat sinergi antara Universitas Ahmad Dahlan dengan sekolah dalam menciptakan program – program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan Prodamat ini, mahasiswa S2 MP UAD tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik dan kepemimpinan, tetapi juga memperkuat perannya sebagai agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan beserta visi keilmuannya yang berorientasi pada pengembangan kepemimpinan pendidikan, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.







