Magister Manajemen Pendidikan Dominasi Lulusan Terbaik Fakultas Wisuda Periode Mei 2026
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) resmi melepas 292 calon wisudawan pada Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung khidmat di Amphitarium Kampus 4 UAD pada 6 Mei 2026. Acara bertajuk “Pendidik Berkemajuan, Siap Mengajar Dimana Saja, Dari Teori Menjadi Aksi” ini menghadirkan alumni sukses Galuh Alif Fahmi Rizki, M.Pd., sebagai narasumber inspiratif.
Dalam sambutannya, Dekan FKIP UAD, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., memberikan wejangan mendalam mengenai filosofi kerja keras dan rasa syukur. Beliau menekankan agar para lulusan tidak terjebak dalam sikap banyak mengeluh, melainkan harus memiliki mentalitas tangguh.
“Apa wujud rasa syukurnya amalnya jadi sarjana ora kakean sambat? Ya ojo kokean ngersulo. Jadi jangan mengeluh, jangan sambat, jangan mengeluh, jangan complaining, don’t complaining,” tegasnya.
Lebih lanjut, beliau mengingatkan pentingnya inisiatif melalui prinsip lokal “ora obah ora mamah” sebagai kunci agar rezeki terus mengalir, sembari menitipkan pesan spiritual untuk selalu menjaga rida orang tua dalam meniti karier.
Ketua Panitia, Hendro Kusumo Eko Prasetyo Moro, melaporkan kelulusan yang mencatatkan prestasi akademik luar biasa bagi fakultas. Disampaikan bahwa dari total lulusan, terdapat 230 orang dari strata S1 dan 62 orang dari strata S2.
“Jumlah calon wisudawan terbanyak strata S1 pada periode ketiga ini adalah dari program studi bimbingan konseling sejumlah 80 orang sedangkan yang terbanyak dari strata S2 sejumlah 36 orang berasal dari program studi Magister Manajemen Pendidikan,” lapor Hendro.
Hendro juga menyoroti capaian membanggakan pada jenjang S2, di mana tiga wisudawan dari Prodi Manajemen Pendidikan 2 orang dan Manajemen Pendidikan Fisika 1 orang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna sebesar 4,00.
Dalam acara inti motivasi wisudawan/wisudawati, Galuh Alif Fahmi Rizki menyampaikan bahwa lulusan sektor pendidikan kini memiliki peluang luas yang melampaui batas ruang kelas formal melalui pengembangan konsep edu wisata. Dengan mengambil contoh keberhasilan Desa Wisata Tinalah di Kulon Progo, ia memaparkan bagaimana potensi lokal—baik alam maupun budaya—dapat dikemas secara kreatif menjadi sumber belajar (learning source) yang bernilai ekonomi. Melalui pendekatan adaptif terhadap kebutuhan pasar yang haus akan pengalaman otentik, para pendidik didorong untuk mampu mengintegrasikan kurikulum pendidikan ke dalam program pemberdayaan masyarakat yang berdampak nyata bagi lingkungan dan kesejahteraan warga desa.
Di era digital, Galuh mengajak para pendidik untuk bersikap lebih proaktif dengan memanfaatkan kebijakan perusahaan perorangan serta teknologi digital sebagai sarana pemasaran dan distribusi ilmu. Pendidikan tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka, melainkan dapat berkembang menjadi produk inovatif seperti ebook, tools, hingga Massive Open Online Courses (MOOCs). Dengan mengidentifikasi “gap informasi” yang ada di masyarakat, lulusan pendidikan dapat menciptakan solusi kreatif yang fleksibel, kompetitif, dan produktif, sehingga mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif di sektor edukasi secara mandiri.
Transformasi dari teori menuju aksi ini merupakan kunci bagi pendidik berkemajuan untuk terus relevan dengan perubahan zaman. Galuh menggarisbawahi pentingnya memiliki mentalitas wirausaha tanpa meninggalkan prinsip dasar pedagogi yang telah dipelajari di bangku kuliah. Beliau menegaskan bahwa setiap individu memiliki aset berupa hobi dan keilmuan yang bisa dikonversi menjadi nilai tambah. Dalam pesannya, Galuh menyatakan:
“Apa yang kita pelajari di bangku kuliah harus kita manfaatkan secara kreatif dan menginovasikan menjadi suatu produk-produk edukasi yang bisa bermanfaat untuk segmentasi peserta kegiatan.”
Prestasi membanggakan para wisudawan diumumkan pada akhir acara melalui penetapan lulusan terbaik tingkat fakultas. Pada jenjang Strata 1 (S1), Sabriandi dari Program Studi PGSD dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan raihan IPK 3,99.
Sementara itu, dominasi prestasi pada jenjang Magister ditunjukkan oleh Program Studi Manajemen Pendidikan yang berhasil mengirimkan sejumlah lulusan terbaik fakultas. Predikat lulusan terbaik pertama dengan IPK sempurna 4,00 diraih oleh Purwanti dan Isti Wulandari. Selanjutnya, Fitri Afika Sari meraih predikat lulusan terbaik kedua dengan IPK 3,99. Adapun predikat lulusan terbaik ketiga diraih oleh Budi Mulyadi, Muhtadi, Ade Putra, dan Desi Ari Desi dengan IPK 3,98.
Secara keseluruhan, Program Magister Manajemen Pendidikan meluluskan 36 wisudawan dengan rata-rata IPK 3,89 dan masa studi rata-rata 19 bulan. Sebanyak 34 wisudawan meraih predikat cum laude/dengan pujian, sedangkan 2 wisudawan memperoleh predikat sangat memuaskan. Capaian tersebut menutup prosesi pelepasan wisudawan dengan penuh rasa bangga dan syukur.






